Cerpen : Jejak Langkah Sufi

Pagi yang begitu indah terpancar di sebuah desa yang jauh dari perkotaan. Burung-burung kecil yang bersahut-sahutan, angin sepoi-sepoi yang berhembus secara perlahan, juga sinar matahari yang hangat terasa di tubuh, menambah indahnya suasana pedesaan yang nampak asri, belum terjamah oleh keserakahan dunia. Berbagai problema masyarakat sekitar yang diselesaikan secara bersama-sama, mendirikan rumah, berladang, berkebun, bahkan sampai dengan waktu panen mereka kerjakan bersama-sama. Begitu kental rasa persaudaraan yang terjaga selama beratus-ratus tahun di desa Selumbar.
Di tengah-tengah masyarakat itulah Sufi dan keluarganya tinggal. Meski kehidupan yang terlihat di sekeliling bagaikan tidak menyimpan suatu problema hidup, sebenarnya hal itu dirasakan oleh semua kalangan masyarakat, tidak terkecuali oleh keluarga Sufi. Memang mayoritas mereka semua bekerja di sawah atau di kebun. Banyak juga dari beberapa pemuda mencoba untuk memberanikan diri pergi merantau ke luar daerah untuk mencoba merubah nasib. Lain halnya dengan Sufi, ia tetap tinggal bersama ibunya dan kedua adiknya. Ia hanya bekerja sebagai petani untuk membantu ibunya membesarkan adik-adiknya. Memang setelah kepergian ayahanda tercinta, hidup Sufi berubah. Ia kini menjadi tonggak utama dalam urusan keluarga sebagai pengganti ayahnya. Ia tinggalkan masa remaja yang seharusnya menjadi masa yang sangat indah bagi setiap orang di kampungnya. Sampai ia tidak mencoba menikmati indahnya bangku SMA seperti layaknya teman-temannya.
Pagi itu, seperti biasa Sufi pergi untuk melihat sawahnya. Masyarakat sekitar yang menjadi petani rata-rata menanam padi termasuk juga Sufi. Akan tetapi, masa panen tanaman padi relatif lama, berkisar 5-6 bulan, tergantung jenis padi. Oleh karena itu, Sufi mencoba mencari cara agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan cara menanami sebagian lahannya dengan tanaman palawija. Kondisi ekonomi keluarga Sufi memang serba pas-pasan. Belum lagi kedua adiknya masih bersekolah. Sufi memang seorang pemuda yang sangat tekun dan giat bekerja. Tak pernah ia mengeluh atau mencoba mengecewakan orang tua dan adik-adiknya.
“Sufi, istrahat dulu”. Sapa seorang tetangganya yang kebetulan lewat di ladang dimana Sufi sedang bekerja.
“Iya pak, sebentar lagi. Tanggung”. Ucapnya.
“Wah kau ini, andai saja aku punya anak sepertimu, pastinya aku akan sangat bangga. Kau benar-benar rajin dan juga bertangung jawab”.
“Ah, bapak ini terlalu berlebihan”.
“Lho, memang kenyataannya seperti itu”.
“Tidak juga kok pak”.
“Ya sudahlah, oh iya ngomong-ngomong kapan kau ini menikah?”
Mendengar pertanyaan itu, Sufi segera menghentikan kerjanya. Sepertinya ada sesuatu yang sangat mengganggu fikirannya ketika pertanyaan itu terlontar kepadanya.
“Tidak tahu pak, apakah ada orang tua yang rela jika anaknya ku jadikan istri. Sedangkan dia tahu sendiri keadaan ku. Orang tidak mampu dan tidak punya ayah lagi. Untuk mencari makan saja sulit, ditambah lagi kedua adikku membutuhkan biaya untuk sekolah. Bagaimana aku menghidupi istri nanti?”
“Ya tidak begitu. Jalan hidup kan kita tidak ada yang tahu. Lalu bagaimana hubunganmu dengan Anita?”
Sejenak Sufi terdiam, ia seperti menahan sesuatu beban yang amat berat di pundaknya.
“Kenapa diam?” tanya pak Mamat kembali.
“Itulah pak, mengapa aku tadi berkata demikian.”
“Maksudmu, orang tua anita tidak…”
“benar pak. Mereka menganggap aku tidak layak untuk Anita. Ia tak sebanding denganku. Ia gadis yang berpendidikan. Sedangkan aku… bapak tahu sendiri, SMA saja aku tidak lulus.”
Malam itu, Sufi datang ke rumah Anita. Maksud kedatangan Sufi sebenarnya baik. Ia hendak melamar gadis pujaan hatinya itu. Mereka memang sudah lama menjalin hubungan tanpa sepengetahuan orang tua Anita. Mereka tahu betul sifat orang tua Anita, mereka sadar, jika hubungan mereka diketahui oleh orang tua Anita, mereka pasti tidak akan mengizinkan hubungan itu. Oleh karena itu, mereka sepakat untuk tidak memberi tahu terlebih dahulu hubungan itu sampai tiba waktunya. Anita baru saja menyelesaikan studinya di sebuah universitas swasta. Sufi berfikir inilah saat yang tepat untuk memberi tahu kedua orang tua Anita dan melanjutkan kisah cinta mereka ke jenjang pernikahan. Sufi hendak melamar Anita malam itu. Ia memang sempat ragu, apakah mungkin orang tua Anita mau merestui hubungan mereka. Tapi dalam hatinya berkata “sebelum dicoba kenapa harus takut?”. Dan akhirnya tanpa berfikir apa akibatnya, Sufi memberanikan diri datang melamar Anita.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Sufi sambil mengetuk pintu rumah Anita.
Memang dilihat dengan mata telanjang, orang dapat mengetahui bahwa Anita merupakan anak orang terpandang di desa Selumbar. Rumahnya saja termewah dari pada yang lain.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Sufi kedua kalinya.
“Wa’alaikum salam.” Terdengar jawaban dari dalam.
“Cari siapa?” tanya yang membuka pintu yang tak lain adalah ibu Anita.
“Maaf bu, Anita ada?”
“Oh, mari silahkan masuk dulu”.
Setelah masuk kedalam, Sufi benar-benar menjadi canggung. Ia sangat takut jika apa yang ia pikirkan benar terjadi. Betapa malu dan hancur jika status sosialnya dipermasalahkan oleh keluarga Anita.
“Nita… Anita…” pangil ibunya.
“Iya, sebentar.” Jawab anita dari dalam kamarnya.
“Ini ada temanmu.”
Tiba-tiba ayah Anita mendengar hal itu dan langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung menghampiri istrinya.
“Ada apa, bu?
“Oh, ini ada temannya Anita.”
“Dari mana nak?”
Setelah banyak pertanyaan yang diajukakan kepada Sufi, barulah ayahnya tahu jika Sufi ternyata bukanlah sosok yang dinginkan untuk menjadi pendamping Anita. Setelah itu semua, harapan Sufi pun pupus. Keadaan berubah menjadi 180 derajat. Sambutan keluarga Anita yang begitu ramah dan hangat berubah drastis. Hal yang ditakutkan oleh Sufi pun terjadi tatkala ayah Anita melontarkan kata-kata yang sangat menyakitkan hati. Sufi segera terunduk dan murung seketika itu. Harapannya untuk bersanding dengan gadis pujaan hatinya menjadi sesuatu yang sangat tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi. “Apakah kau sanggup untuk mencukupi semua kebutuhan Anita? Sedangkan keluarga kamu saja serba pas-pasan. Aku tidak mau anakku sengsara hidup denganmu. Lebih baik kamu segera buang jauh-jauh fikiran kotormu untuk mengambil anakku menjadi istrimu.” Kata-kata itu yang keluar terakhir dari mulut ayah Anita dan yang sangat diingat oleh Sufi. Seketika itu Sufi beranjak menarik diri dan pulang dengan kesedihan yang luar biasa. Sampai di rumah, kesedihan Sufi bertambah ketika kedua adiknya memintanya untuk menyediakan uang untuk membayar uang sekolah mereka. Bagaimana ia dapat memenuhi semuanya secepat itu. Pikiran Sufi mulai berkecamuk, belum hilang rasa sedihnya mengingat ucapan ayahnya Anita, ia kini harus berusaha sekuat tenaga bekerja untuk memenuhi tuntutan adik-adiknya.
“Begitulah pak. Memang nasib baik belum berpihak kepadaku.”
“Sabarlah. Semua pasti ada hikmahnya. Tak ada masalah yang tidak mendapat jalan keluar. Kamu pasti dapat melewati semua itu.”
“Ya pak. Saya juga berfikir begitu.”
“Ya sudah, mari kita pulang. Matahari semakin tinggi lebih baik kamu istirahat di rumah saja.”
“Saya juga sudah sangat mulai lelah pak. Kalau begitu mari kita pulang bersama.”
Berjalan menyusuri jalan setapak menuju kampung. Melewati sungai yang membentang, hingga ahirnya sampai di perkampungan Salembar.

About agung38

putra bungsu

Posted on 15 Juni 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: